Sunday, 28 August 2016

IGeO 2012: Throwback Sebuah Pengalaman

Halo semua! 안녕!!

Sebentar lagi dah mau masuk semester 2 nih (yang artinya bakal stres lagi). Tapi sebelum masuk dan mungkin jarang cerita *kayak sering posting aja wkwk*, ada satu pengalaman yang ingin aku ceritakan. Terjadi tepat empat tahun lalu, dan merupakan pengalaman pertama ke luar negeri :). 
Pengalaman pertama ke negeri seberang memang gak bakal terlupakan. Ada serunya, tapi banyak sedih, sakit hati, dan menguras emosi juga (gak cuma karena medali lho ya). Tapi sekarang, mari kita buang hal-hal yang menyedihkan dan ambil positifnya saja ^^.
Tepi Sungai Rhein, Cologne ^^
Jadi ini semua bermula dari lomba geografi dan geosains yang diadakan di ITB. Pernah aku singgung dikit sih di postingan sebelumnya: Olimpiade Sains: Sebuah Kisah Perjalanan Part 1 dan Part 2. Nah, intinya itu cuma coba-coba ikut lomba, lalu alhamdulillah dapat juara 3 sehingga dikirim ke International Geography Olympiad (IGeO) di Cologne, Jerman. Nah, karena Indonesia baru pertama kali mengirim wakilnya, dana dari pemerintah pun belum ada dsb. Jadi, pelatihan pun materinya semampunya dan juga hectic ngurusin sponsor (kayak antara jadi berangkat atau gak gitu).
Tim IGeO Indonesia yang pertama, sebelum berangkat
Sebelumnya langsung ke bagian sedih dulu aja. Pasti kecewa gitu gak dapat medali, apalagi ini berhubungan sama sponsor dan aku juga ngorbanin waktu buat belajar OSN. Tapi lebih dari itu, sepanjang perjalanan rasanya tidak nyaman dan juga mengorbankan perasaan (kalau mau bayangan seberapa parahnya, bayangin nangis di toilet kereta internasional Jerman-Belgia). Anyway, mungkin karena aku masih muda (paling muda di antara empat siswa) jadi seperti dianakbawangkan (bisa juga karena aku paling gak bisa nyari sponsor sendiri dan gak dapat apa apa). Tapi masih muda gitu jadi juga gampang baperan kan wkwk. 

Beralih ke bagian serunya. Jadi memang sejak lama kan aku pengen ke luar negeri, dan akhirnya kesampaian juga. Di keluarga (bukan keluarga besar lho ya) aku juga yang pertama ke luar negeri (orang tua pergi haji beberapa bulan setelahnya). Nah, itu pertama kali naik pesawat internasional dan dapatnya Fly Emirates :D. Bahkan sampai sekarang aku masih ngerasa kalau maskapai yang paling enak dan ramah itu emirates (sorry Garuda). Dan yang paling aku suka, di pesawatnya ada kamera depan sama bawah, jadi pas landing sama take off bisa kelihatan kota/negaranya (waktu itu aku dapat tempat di tengah soalnya). 
Bisa kelihatan pulau buatan dari kamera bawah pesawat :).

Nah, karena pakai Emirates, otomatis transitnya di Dubai. Iya, DUBAI wkwkwk (maklum itu pertama kali). Baru sekali itu lihat bandara segedhe dan sebagus itu. Suasananya internasional banget, dengan berbagai merek yang cuma pernah aku denger. Transitnya lama sih, semalam, jadinya dapat kupon makan :). 

Lalu akhirnya sampai di Jerman, tepatnya bandara Dusseldorf. Pertama kali ke luar negeri dan langsung menginjak Eropa itu sesuatu banget, harus aku bilang. Dari Dusseldorf ke Colognenya naik kereta. Itu juga pertama kali aku nemu kereta sehalus dan sebagus itu :D (walaupun sistem tiketnya agak bingungin, jadinya kita berdiri terus, gak tahu harus gemana). Lalu sampai Cologne juga harus muter-muter nyari hostelnya (padahal ternyata deket banget sama stasiun utama). 
Waktu sampai di Bandara Dusseldorf

Waktu IGeO sendiri juga memberi pengalaman tersendiri. Bisa bertemu siswa-siswa dari berbagai dunia dan berinteraksi dengan budaya mereka secara langsung. Walaupun aku akui sih, aku kena culture shock sepanjang acara. Yang pertama jelas pakaian. Itu musim panas, dan sebenernya wajar buat orang sana untuk pakai pakaian yang minim. Cuman di universitas tempat venuenya (tepatnya University of Cologne), dosen perempuan pun cuma pakai baju u-can-see dan rok standar. Lalu yang kedua makanannya. Itu bener-bener pertama kali ke luar negeri dan gak ketemu nasi. Tiap hari makannya roti, sereal, sandwhich (roti juga sih), pasta atau kentang. Rasanya tersiksa gitu, ada yang kurang di hidup wkwk. Saking gak makan nasinya, pas aku mendarat di Soekarno Hatta dan makan KFC, nasinya rasanya enaakkkk banget wkwkwk. Padahal setelah aku coba makan habis dari luar negeri tahun-tahun berikutnya, rasanya biasa aja haha. Tapi susu di kafetaria hostelnya enak banget lho ^^. Bahkan bisa aku bilang susu terenak yang pernah aku minum wkwk. Satu lagi yang aku temuin, ternyata orang barat itu masalah asmara gampangan banget (no offense). Masak beberapa hari baru ketemu udah ada yang pacaran (cewek Australi sama cowok Denmark). Kita berempat semua terheran-heran kok wkwk.
Pembukaan IGeO 2012
Terus aku juga ada masalah sama bahasa Inggrisnya. Maksudku aku cukup lancar, tapi untuk berinteraksi sehari-hari aku masih kurang waktu itu. Dan semuanya punya logat masing-masing, bahkan untuk native speaker. Kan waktu itu ada tim dari UK, Australia, Selandia Baru, dan observer dari USA. Percaya deh, waktu mereka bicara aku bisa bedain logatnya. Bahkan, anak-anak dari Inggris raya pun, empat-empatnya beda dialek. Yang aku bisa ngerti cuma satu, cewek, soalnya logat dia kayak di buku-buku bahasa Inggris dari Longman wkwkwk. Alhasil aku gak terlalu gaul sama anak eropa, lebih banyak dari Asia, terutama Jepang, karena bahasa Inggris kita sama-sama gak terlalu bagus wkwk (tapi emang ada kecenderungan Eropa ngumpul sama Eropa, Asia sama Asia). O ya, lalu yang dari China waktu itu ada empat tim: China Mainland, Hongkong, Taiwan, sama Macau. Masalah politik sih, tapi aku waktu itu baru sadar haha. Lalu ada juga masalah alkohol. Waktu pulang malem-malem, aku ngelihat ada beberapa pemuda (kayaknya mahasiswa) yang bawa troli isinya penuh bir berbotol-botol! Terus sering juga ketemu orang mabuk sama muntahan di jalan waktu pulang malem, ckckck...
Sama anak-anak Jepang di deket pabrik coklat

Terus, aku belajar satu hal menarik: Alegori Plato! Jadi ceritanya di IGeO ada cultural night. Semua peserta dibagi ke empat tema besar, yang dibagi lagi jadi beberapa tim. Waktu itu aku dapet foto, dan aku milih pertunjukan tentang alegori plato ini. Gak terlalu banyak yang pengen ikutan, tapi ini berkesan banget. Agak susah jelasin alegori plato, jadi mending lihat video di bawah (video yang sama dengan yang aku tonton di Jerman) :D. Intinya, jangan hanya percaya perkataan orang tentang sesuatu, misal tempat/orang/benda dll sebelum pernah mengalaminya langsung. Nah, konsep ini bantu aku ke depannya biar gak terjebak sama stereotip umum sehingga lebih open minded ^^.

Dan ada beberapa pertanyaan unik selama IGeO sendiri. Waktu latihan field work, ada anak Selandia Baru (keturunan cina sih) yang nanya: Indonesia makanan pokoknya apa? Mie Instan ya? *Oh yeah, thanks so much Indomie, you are soooo popular*. Aku bengong sendiri kan, terus aku jawab nasi, kalau mie instan buat selingan doang. Ada juga guide yang nanya jumlah pulau di Indonesia, terus keliatan kaget gitu waktu aku bilang 17 ribu pulau *bangga*. Lalu waktu presentasi poster (ada gituan, waktu itu tentang bendungan bawah tanah di Gunung Kidul), ada anak British nanya, emang Indonesia punya dana buat bangun gituan? *ngeselin kan? -__-"*. Walaupun emang sih proyek gitu ada investasi asing, tapi gak harus segitunya juga kan.... Terus aku juga dapet pertanyaan tentang Islam. Ada yang tanya makanan halal haram, ada juga yang bilang tertarik sama budaya Islam. Itu pertama kali lho aku nemu yg kayak gitu.
Poster Tim Indonesia
Foto di depan poster tim Jepang

Waktu penutupan, pertama kali lihat konser Philip Harmonic Orchestra

Dan jalan-jalan? Jangan ditanya! Puas banget waktu itu jalan-jalan di Colognenya, dari pakai tram (pertama kali naik tram) sampai pakai bus. Soalnya waktu itu ada lumayan banyak waktu bebas, terus ada juga sesi jalan-jalan sama mahasiswa sana. Dari Cologne Chatedral, museum coklat, plaza kota, tepi sungai, sampai ke mall di luar kota. Terus yang unik, waktu jalan-jalan grup, ada tempat pengolahan limbah yang dibuat jadi tempat wisata. Bahkan bisa bermalam di bangunan yang kayak gentong dihorisontalin! Dan gak bau sama sekali! (walaupun agak kesel sih, grup satunya ke vila peristirahatan Julius Caesar, yang, kata temen yang kesana, keindahannya ngalahin Paris) Walaupun sayang banget aku gak beli suvenir dari Cologne (habis mahal sih, rata-rata 3-5 euro cuma buat gantungan kunci). Tapi aku sama mas Anzja borong banyak banget coklat dari toko di museum coklat (yang mereknya Lindt itu lho). Yup, coklatnya banyak yang murah, jadi kita kayak kerasukan gitu belanjanya haha.
Foto sama mahasiswa sana yang menemani jalan-jalan
Di tepi sungai Rhein
Cologne Cathedral

Tempat pengolahan limbahnya... kelihatan rapi kan

O ya, waktu malam terakhir di IGeO, 3 anak Jepang main ke kamar kita (waktu itu cuma ada aku sama mas Anzja). Kita ngobrol banyaakk banget, walaupun agak tersendat bahasa sih. Mereka juga bawa minuman botol (teh sama soft drink lho, bukan bir). Ternyata mereka tahu banyak tentang geografi Indonesia, sampai ada yang tahu tentang jalur kapal tanker yang lewat selat Lombok (sebelumnya aku kira lewat selat Malaka). Kita juga tuker-tukeran cendera mata gitu. Pokoknya malam itu berkesan banget lah.

Nah, setelah dari Cologne, ketua delegasi (aka pembina) ngajak ke Brussel sama Paris. Sejak awal beli tiket emang belinya dari Jakarta-Dusseldorf sama Paris-Jakarta. Jadilah kita jalan-jalan (ini beneran jalan pakai kaki) seharian di Brussel sebelum naik kereta ke Paris. Kotanya bener-bener kerasa.... Eropanya wkwkwk. Lalu ada patung anak kecil lagi pipis yang terkenal. Sejarahnya sih katanya gara-gara dia kebelet tengah malam, dia bisa memberi peringatan ke warga kota kalau ada pasukan yang mau menyerang diam-diam. Lucu kan. Di Brussel gak terlalu banyak yang terkenal sih, tapi aku beli banyak oleh-oleh, soalnya murah-murah ^^. Belinya borongan lagi haha.
Di stasiun Cologne, sebelum ke Brussel

Foto di depan patung anak kecil pipis :D
Gambar artis, ketika ada festival bunga di Plaza kota Brussel

Di plaza Brusselnya
Di kereta ke Paris... Keretanya bagus banget :)
Sorenya ke Paris, setibanya di sana langsung ke hotel di Gar du Lyon. Nah di Paris, jelas banget kan kemana? Yup, Eiffel, Louvre, makam Napoleon, museum Perang Dunia 2, dsb. Kita juga jalan di tengah kota dan menikmati suasana yang Eropa banget haha. Terus yang enak lagi, buat orang asing dibawah 18 tahun (kalau warga Uni Eropa di bawah 24 tahun), masuk ke museum itu gratis. Jadinya aku masuk Louvre dan museum-museum lain tinggal nunjukin paspor (Paling muda gak terlalu buruk kok haha). Aku masih inget karena waktunya bentar banget, aku sama Mas Anzja lari-lari di Louvre. Tapi hasilnya lumayan kok, bisa liat Monalisa, The Last Supper, batu Hammurabi, dan karya seni terkenal lainnya ^^. Sayangnya di Menara Eiffel kita gak sempet naik sampai puncak, tapi waktu malamnya bisa liat juga sih. Percaya deh, Eiffel cuma bagus waktu malam hari, pas ada lampu. Kalau siang cuma kayak menara besi biasa. Satu lagi, di Paris juga ketemu sama duta Indonesia untuk UNESCO. *lupa siapa nama bapaknya* Kita diajak makan bareng di rumah beliaunya (sempet nyasar banget tapi) haha...
Foto bareng di depan hotel

Tepi Sungai Sein

Katedral Notredame

Di Louvre ^^

Lupa nama gerbangnya dan kenapa didirikan di situ :P

Foto bareng mas Anzja di depan Eiffel

The last Supper

Arc d'Triumph (bener kan ya?)

Foto bareng dubes Indonesia untuk UNESCO

Eiffel waktu malam hari, foto paling bagus padahal gak terlalu bagus


Lukisan Monalisa

Aku lupa nama patungnya

Batu Kode Hammurabi

Makamnya Napoleon di Bastille


Well, sebenarnya ada beberapa alasan sih aku baru bisa cerita sekarang. Bukan karena gak sempet lho ya, tapi memori ini sebenarnya meninggalkan beberapa bekas luka yang mendalam *gara-gara ini juga aku gak pengen apply ITB pas kelas 3*. Tapi setelah aku pikir-pikir, toh ini juga salah satu hal yang membuat aku jadi seperti sekarang ini *kayak jadi apa aja gitu kan....*. Dan juga, aku banyak belajar tentang kehidupan :)

Friday, 26 August 2016

Sekarang Ada Versi Inggrisnya!

Halo semua! 

Ada yang baru nih dari tampilan Blog Dzikrurrokhim! Yup, sekarang ada edisi bahasa Inggrisnya. Sebenernya cuma iseng-iseng aja, ternyata gak terlalu susah kok (walaupun gak terlalu canggih, tapi lumayan lah...).

Aku juga ngucapin terimakasih banyak buat video di bawah ini. Tutorialnya gampang, dan orangnya bahkan sampai ngasih kode htmlnya. Thanks a lot pokoknya ^^.

Lalu kenapa nulis yang bahasa Inggris? Yah, seperti kita tahu, era globalisasi sekarang ini mengharuskan kita menguasai bahasa asing untuk memenangkan persaingan (ehm, bercanda). Sebenarnya cuma agar lebih banyak orang yang bisa baca ceritaku (siapa tahu ada yang bisa berguna buat mereka kan?) dan juga biar writing ku gak hancur-hancur banget. Soalnya, belakangan, aku agak bingung nyari kata dalam bahasa Indonesia, Inggris, sama Korea. Sering kebolak-balik gitu. Dan ini salah satu penyebab (menurutku) aku dapat C+ di salah satu mata kuliah semester lalu -___-. 

Walaupun begitu, dalam cerita yang sama, isi yang bahasa Inggris bisa jadi agak berbeda. Maklumlah, gak semua ekspresi bahasa Indonesia pas buat bahasa Inggris. Tapi kalau mau coba latihan reading bisa juga (lagian bahasanya bakal simpel-simpel aja kok).

Tapi berhubung liburan akan segera berakhir, isi blog yang bahasa Inggris mungkin untuk awal-awal tidak akan terlalu banyak :D. Dan mungkin (mungkin lho ya), di masa mendatang akan ada versi bahasa Koreanya (doakan saja bahasa Korea ku bertambah baik, terutama buat writingnya hehe).


Now It is also available in English!

Hi! It's my first post in English, yeeaayy haha...

Well, after thinking for quiet long time, I decided to write my blog in English also. There is no special reasons. I just think that it would be nice to be able to share my experiences to more people. It'll also be a kind of good practice in writing in English (as nowadays I'm quiet confused in getting words either in Indonesian, English or Korean-duh). I also give a lot of credits to the tutorial video below which helps me in turning my blog into bilingual blog. Thank you so much ^^.


However, I do need to notice you first that what I write in English might be quiet formal (I mean for word choices and something like that). I'm not a native English speaker and although I have learnt English since elementary school, I still don't have many slanks or at least fun English words (I think it's normal though). When I write in Indonesian, I can write in more flexible ways, but that's not the case in English. So, I hope all of you who read my blog understand, and I do hope you can find something useful from my experiences.

Please Enjoy ^^

Ridwan

Thursday, 11 August 2016

Curcol Hidup di SNU

Halo semua ^^... Kali ini ada sedikit curcol setelah satu semester di SNU. Kuliah di salah satu univ terbaik Korea, 10 besar Asia, 50 besar dunia dan sebagainya sebagainya (aku gak tau ranking pastinya sih, tp gak penting juga kan? :p) pastinya ada hal-hal menarik dong. Apalagi statusnya masih freshmen alias maba gini (jadi ngerasa muda lagi wkwkwk). Anyway, gak semua yang di sini berbau baper apalagi menyedihkan gitu kok (walaupun kenyataannya hal kayak gitu lebih banyak ㅋㅋㅋ). Jadi mulai dari....

1. SNU bener2 sekolah yang prestisius dan melegenda di Korea. Coba deh denger percakapan di drama2 (kadang gak masuk subtitle hehe). Dan jadi ikut bangga juga *iya lah, adik tingkatnya Ban Ki-moon gitu... iya, yang sekjend PBB itu tuh wkwkwk*
Gerbang depan SNU yang legendaris wkwkwk

2. Waktu 입학식 alias upacara penyambutan siswa baru, banyak wali murid yg bawa buket bunga, terus habis upacara selesai dikasih ke anaknya. Coba bayangin habis upacara pembukaan/penutupan PPSMB (sorry, aku cuman taunya UGM, tp ganti yg sejenis juga boleh kok) terus orangtua kalian kasih karangan bunga, dan selamat bisa masuk UGM (padahal lulusnya belum tau kapan kan? *peace*)
Berhubung gak ada yang ngasih karangan bunga, kita foto bareng aja

3. Masih berhubung sama nomer 1. Waktu itu masih belajar bahasa Korea di univ lain di luar Seoul. Terus pernah main ke rumah guru *diajak temen* dan kita juga ketemu suaminya (gurunya cewek). Nah, ceritanya kita ngobrol dan akhirnya suami guru itu pun nanya bakal ke univ mana. Waktu temen2ku pada jawab (aku ditanya terakhir), beliaunya biasa aja, padahal salah satunya bakal ke Yonsei yang juga prestisius. Terus pas aku bilang bakal ke SNU, beliaunya kaget dan langsung bilang "ayo kita temenan" -__-.... 

4. Gak pandang waktu, bahkan ketika vacation alias libur semester, di ruang baca sm perpus pasti ada yang lagi belajar (belajar lho ya, bukan ngadem sambil wifian :p). Emang sih ada semester pendek, yg makan waktu 1 bulan dr 2 bulan liburan... tp habis itu tetep ada yg masih belajar kok ^^

5. Sistem pendidikannya enak, bisa bebas milih matkul sesuka hati (asal terpenuhi aja syarat lulusnya), gak ada batas sks persemester berdasar IP (dipukul rata maks. 18, bisa 21 tp ada syaratnya), dan gak harus lulus dalam maksimal 5 tahun (kecuali buat anak beasiswa loh ya, tetep kudu tepat waktu....). 

6. Nomer 5 enak, tapi sayang seribu sayang, penilaiannya pake persentase gitu -__-... Biasanya setiap matkul 30% dapet A, 40% dapet B dan sisanya dapet C ke bawah (kalo gak salah inget...), terus masing2 dibagi lagi ada yg A+, A0, A- bla bla bla. Keliatan banyak kan? Tapi coba deh kalo satu kelas cuman dikit, misal 12, atau 16, atau 20 (dan banyak lho kelas kayak gini...). Dan alasan sistem ini: untuk mencegah inflasi nilai! (jadi tau kan gak cuma uang yg bisa inflasi?) x___x

7. Percayalah nomer 6 bikin frustasi dan kesel (jangan dicoba di rumah wkwk). Akibatnya, kalo habis ujian jangan tanya "tadi seberapa bisa ngerjain?" tapi tanyalah "tadi yang lain pada seberapa bisa ngerjain" dan berharaplah "moga yang lain nilainya lebih rendah dari aku" -___-

8. Dan mungkin karena nomer 5 juga, suicide alias bunuh diri di SNU sangat diantisipasi. Anak engineering aja harus ikut seminar suicide prevention buat bisa lulus. Terus, awal2 aku nemu booklet pencegahan bunuh diri di asrama, terus ada nomer gawat darurat bunuh diri sampe gejala2nya (yang aku heran, bookletnya cuman pake bahasa Inggris, hmmm)
Booklet anti bunuh diri (yg entah kenapa cuman ada english edition)

9. Siapa bilang pacaran dan belajar gak bisa sejalan? Di sini banyak lho yang belajar di ruang baca sampe malem, terus pas bosen mereka keluar dan..... pacaran *ehm ehm*... terutama ketika masa2 UTS dan UAS

10. Oke, aku juga pernah mau balik dari ruang baca ke asrama, sekitar jam 12 malem, dan ada yang lagi ciuman di luar perpus (tapi agak jauh) -____-.... (sejauh ini belum ada yg lebih parah...)

11. Masih seputar cinta dan asmara, mahasiswa sini jarang lho yg ngomongin nikah... (di Indonesia mah dah dari semester satu kan? wkwk)... Aku sebenernya baru sadar waktu pulang kemarin, terus ketemu keluarga dan temen2, yang isinya dari nikah sampe urusan cucu (yg ngobrol orang tua sm kerabat, dengan nada penuh harap....). Well, frankly speaking, I was really shocked....

12. Pernah denger cerita kalo duluuuu orang Jepang kuliah di Barat dan catatannya mereka terjemahin ke bahasa jepang (pakai kanji)? Dan ternyata orang Korea ngadopsi istilah2 akademis itu dengan penyesuaian... Dan itu bikin pusing, karena hampir semua istilah dari ekonomi, geologi, meteo, sampe medis punya nama sendiri di bahasa Korea -___-
13. Tapi untungnya, dosen-dosen di sini terbuka dan cukup baik kepada mahasiswa asing ^^... Sebenernya mereka sering pake istilah inggris dan buku teks terbitan Amerika (walopun ada terjemahannya, tp tetep ada versi Inggrisnya *fuhhh...*)

14. Klub dance itu populer banget di SNU.. ada dari tingkat jurusan sampe universitas. Dan yup, mereka nari kayak boyband girlband gitu... (kostumnya juga.... berarti tahu sendiri kan? :D). Biasanya setiap semester ada pertunjukannya wkwkkw
Pertunjukan klub dance jurusan semester lalu (sumber: SEES Dance FB Page)


15. Dan ada baju standar buat musim panas: cowok celana pendek sepuluh senti atas lutut dan cewek celana pendek sepuluh senti bawah pinggang (oke, aku terlalu berlebihan, tapi banyak bgt yg segitu ukurannya -__-)... Dan itu dipakai buat kuliah, iya duduk di bangku kuliah. Dan jujur, itu agak mengganggu -___-

16. O ya, sebagai maba, di sini gak ada ospek lho... tapi ada acara semacam makrab, dari angkatan atas2 sampe yg paling baru, dan isinya, tidak lain dan tidak bukan: minum (alkohol) sampai teler! (tapi aku gak ikutan minum lho....)

17. Nah, pas acara makrab gitu, sebagai satu dari dua orang yang masih punya akal sehat sampai pagi hari, aku nyaksiin hal-hal aneh ketika pada teler, aka kebiasaan mabuk. Ada yang nangis, jadi lebih agresif, sampe lari-lari di luar villa....

18. Yang agak miris, biasanya pas pada mabuk atau agak mabuk, pada lebih banyak ngobrol sama aku (foreigner soalnya, biasanya mereka malu2 gitu)

19. Di SNU sendiri mabuk gak dilarang lho... dan biasanya pas cuacanya gak dingin2 banget, masing2 jurusan dapet giliran buka lapak buat jualan makanan sm minuman (baca: minuman keras)... jadi kadang pas pelajaran atau pas lab, ada temen yang mabuk tp gak berat, bahkan ada yg sampe bolos kels gara2 mabuk berat.

20. Dan bicara budaya mabuk di univ, para profesor pun lebih hebat juga (lebih pengalaman soalnya...) Pernah waktu ada jamuan jurusan, prof yg duduk semeja nawarin whine ke mahasiswa2 (aku gak minum lho ya.....)

21. Setiap tahun biasanya ada festival univ di masing2 univ gitu.... Biasanya banyak penyanyi2 terkenal yang dateng. Dan SNU sudah terkenal akan festivalnya yg tidak fun! (sebenernya lumayan sih, tp dibanding univ lain.... misalnya tahun ini aja SNU cuma ngundang satu penyanyi terkenal, itu juga lulusan SNU -__-, univ lain ngundang selusin mungkin?)
Foto bareng mahasiswa Indonesia lain... jarang2 bisa kumpul di tengah semester gini

22. Di sini ada istilah "Gwanak time", yg kurang lebih artinya mahasiswa SNU itu suka ngaret (Gwanak itu nama kecamatan tpt SNU berada)... Aku bingung sih kok bisa kayak gini... Jadi  biasanya kalo mau janjian tepat waktu ditambahin kata "tanpa Gwanak time"

23. Hampir kelupaan, beberapa kali aku liat lho mahasiswa yang lagi jalan tiba2 jatuh atau kesandung gitu... Diagnosis awal sih antara banyak pikiran atau saking gak sempetnya tidur jadi gak fokus gitu *pernah ngalamin sih ehm ehm*

24. Dan mungkin karena saking stresnya di SNU, mahasiswa Indonesia di sini julukin SNU "rumah sakit Gwanak".... Gak salah2 banget sih, walaupun dirawat di sini bukannya sembuh tapi malah makin parah...

25. Yang terakhir nih, aku baru sadar lho di sini kalo masuk di univ terbaik, apalagi yang punya ranking tinggi di asia dan dunia, berarti juga harus nanggung konsekuensinya: belajar lebih keras dan jangan berharap everything is easy... Maksudku aku pernah satu semester di UGM (yah kan itungannya salah satu yg terbaik di Indonesia kan...) dan rasanya biasa aja (no offense)... Tapi di sini, rasanya kayak survival dari satu semester ke semester lain dan dari satu bulan ke bulan lain )__(


Sebenerny mungkin masih banyak, tapi yang keluar idenya cuma segini :D :D

Tuesday, 9 August 2016

Dibalik KGSP-U 2015: Dari Di"php" Akhirnya Nyasar ke Korea

            
Halo semua! Apa kabar? Hehe... Setelah lama gak ngepos, kali ini ada satu cerita lagi.... Yup, berhubung lagi liburan musim panas yang lamanya dua bulan dan gak ada kegiatan lain, akhirnya aku mutusin untuk ngangkat cerita yang sebenernya udah lama banget pengen aku pos. Yup, apalagi kalo bukan asal muasal terdampar di negeri ginseng ini hehe.
Well, waktu ternyata cepet banget berlalu ya (pasti bosen denger kan? wkwkwk). Udah satu setengah tahun ada di Korea, dan kini aku mulai bisa menebak nebak kenapa Allah mengirimku ke sini, bukan ke negara lain yang sebenernya pengen banget.... Btw, ini cerita aku ubah dari cerita yang aku kirim ke PERPIKA (Persatuan Pelajar Indonesia di Korea alias PPI nya Korea gitu) buat dimasukin ke buku PERPIKA untuk Indonesia jilid 2 yang Insyaallah akan segera terbit (mohon doanya ya...). Walaupun bahasanya udah aku buat kurang formal, tapi tetep aja gayanya beda haha. So, enjoy!!!

Sudah sejak SMP aku memiliki keinginan untuk berkuliah di luar negeri (gak tau juga kerasukan apa punya mimpi kayak gitu ^^). Memang pada waktu itu masih sebatas angan-angan karena aku sendiri pun tidak yakin bagaimana caranya. Terutama karena sejak awal sudah punya mindset untuk fokus pada beasiswa sedangkan dari kabar yang beredar beasiswa untuk tingkat S1 di luar negeri juga tidak banyak (terutama yang full untuk orang Indonesia).
Kemudian waktu SMA aku ikut Olimpiade Sains Nasional (OSN) di bidang kebumian. Seleksi yang dimulai dari tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga nasional ini salah satu tujuannya adalah untuk menjaring perwakilan Indonesia pada olimpiade sains internasional. Biasanya para medalis tingkat nasional akan dikarantina pada pelatihan nasional (pelatnas) yang kemudian akan dipilih beberapa orang sebagai wakil Indonesia. FYI, pelatnas biasanya tiga tahap, masing2 sekitar satu bulan, tapi dilakukannya gak langsung gitu.
Pertama kali ikut OSN SMA saat kelas 10 pada tahun 2011 (Yup, pas kelas 9 akhir ikut seleksi yang SMA, buat yang penasaran). Walaupun bener2 gak nyangka, alhamdulillah dapet perunggu, jadinya diundang buat ikut pelatnas. Saat itu aku hanya berhasil mencapai pelatnas tahap I (sedih sih, tapi emang belum siap). Walaupun begitu, yang aku ingat betul adalah aku mendengar janji dari salah satu pejabat Kementrian Pendidikan (wakil kementrian yang biasanya buka tutup pelatnas tu lho...) dalam acara pembukaan dan penutupan pelanas bahwa pemerintah akan memberikan beasiswa penuh kepada siswa yang mendapatkan medali internasional untuk melanjutkan pendidikan tinggi di mana saja, baik dalam negeri maupun luar negeri (katanya sih gitu, huff...). Untuk medali perunggu hingga S1, medali perak hingga S2, dan medali emas hingga S3. Aku kemudian menjadi bersemangat mengetahui adanya sebuah celah untuk mewujudkan mimpi aku berkuliah di luar negeri.
Pada tahun 2012 aku kembali mengikuti kompetisi yang sama dan kembali masuk pelatnas. Di situlah aku benar-benar berusaha maksimum dengan harapan dapat lolos tahapan seleksi dan dikirim ke kompetisi internasional. Ketika itu awal kelas 2 SMA. Sepulang dari OSN, kebetulan aku bercakap-cakap dengan salah satu kakak kelas yang mendaftar ke New York University (NYU) Abu Dhabi, sebuah universitas Amerika yang dibiayai oleh pemerintah Abu Dhabi (beasiswanya bener2 full, tp sayang jurusannya terbatas). Aku yang penasaran kemudian mencoba browsing di internet dan perlahan-lahan mulai mengumpulkan berbagai informasi mengenai proses aplikasi dan beasiswa yang ditawarkan universitas di beberapa negara, dari USA, Kanada, sampe Australia.
Ini screenshoot folder yang isinya applikasi sm info univ di luar negeri

Aku pun menjadi semakin bersemangat. Sambil terus berusaha di pelatnas, aku juga rajin mengumpulkan informasi pendaftaran universitas. Dan alhamdulillah, aku terpilih mewakili Indonesia dalam International Earth Science Olympiad (IESO) di India pada tahun 2013 dan kemudian mendapat medali perak. Pastinya senang banget dan berulang kali mengingat janji pemerintah pada saat pelatnas. Sepulang dari perlombaan, aku pun langsung menyibukkan diri dengan proses aplikasi. Mulai dari mengisi Common App dan aplikasi beberapa universitas, meminta surat rekomendasi dari guru, hingga mempersiapkan tes TOEFL iBT dan SAT. Waktu yang singkat, ditambah aku juga harus mengejar ketertinggalan materi sekolah selama mengikuti olimpiade sains membuat aku harus bekerja ekstra keras. Aku pun menggunakan uang hadiah yang aku terima selama olimpiade untuk membiayai proses aplikasi yang memakan biaya (terutama buat TOEFL IBT sm SAT nya -___-, ditambah buat ngirim score ke univ harus bayar lagi, duh).

Namun, dipertengahan proses, aku mendapat kabar dari teman yang masih mengikuti pelatnas (soalnya kelas tiga aku dah gak boleh ikut IESO, aturan sana) bahwa ada perubahan kebijakan dari Kementrian Pendidikan bahwa untuk S1 hanya mendapat beasiswa untuk kuliah di dalam negeri. Aku pun kaget dan menjadi khawatir, terlebih karena kebanyakan universitas tujuan aku tidak memberikan beasiswa. Tetapi karena aturan tertulis yang baru masih belum keluar dan sudah kepalang basah, aku mencoba untuk tetap optimis dan menlajutkan proses aplikasi. Sebenernya yang angkatan atasku ada anak Pribadi Bandung, medali perak sm emas IBO, dan dia dapet beasiswa jalur olimpiade dari pemerintah ke MIT... Makanya aku masih agak optimis...
Akhirnya sekitar Maret sampai Juni, saat-saat yang juga sibuk bagi siswa kelas 12 SMA, pengumuman aplikasi aku keluar. Aku memang tidak diterima di Ivy League (oke, aku akui aku emang nekat apply ke Stanford, University of Chicago, sama NYU New York dan Abu Dhabi dengan nilai SAT segitu...), tapi aplikasi ke University of Arizona dan University of British Columbia lolos. Aku juga mendapat letter of acceptance di Melbourne University (yang ini agak akhir).
Well, Stanford University, salah satu univ impian yang gak keterima (sumber: stanford.edu)
Salah satu univ tujuan: UBC Okanagan Campus. Keterima sih, tapi..... (sumber: ubc.ca)

Akhirnya aku kemudian mengontak salah satu pejabat Kementrian Pendidikan yang kebetulan juga mendampingi tim Indonesia saat olimpiade di India. Beliau pun banyak membantu aku hingga akhirnya mendapat surat rekomendasi dari Direktorat Pendidikan Menengah, yang mengurusi olimpiade sains, ke Direktorat Pendidikan Tinggi, yang memberikan beasiswa. Aku mengira semua akan berjalan lancar. Namun, entah mungkin karena pengaturan beasiswa olimpiade sains internasional yang kurang jelas atau karena baru pasca pemilu, aku tidak mendapat kepastian bahkan hingga batas akhir registrasi universitas. Aku pun merasa kecewa dan akhirnya memutuskan untuk berkuliah di UGM jurusan Teknik Geologi yang aku dapatkan melalui jalur undangan.
(Coba deh bayangin, udah dapet janji dr pemerintah, semangat belajar keras buat dapet medali, tp akhirnya beasiswa yang dijanjiin gak keluar-keluar. Padahal waktu itu dah dapet rekomendasi dari Dirjend pendidikan menegah. Dirjend lho ini dirjend, satu tingkat dibawah mentri... Dan akhirnya aku gagal bahkan yg ke aussie (mulainya agak telat yang di sana). Padahal di SMA juga banyak orang dah tau aku pengen banget ke luar negeri, rasanya malu dan bener2 diphp.... Dan aku masih ingat betul waktu itu akhir2 bulan ramadhan, aku keliling Jogja naik motor sore2 sambil nahan rasa pengen nangis.... untuk gak kecelakaan waktu itu -__-).
Meskipun begitu, kekecewaanku tidak dapat aku sembunyikan, terutama dari diri sendiri. Aku memang dapat mengikuti perkuliahan dengan baik, tapi rasanya seperti tanpa semangat (rasanya gak pengen terlibat banyak gitu... tp waktu itu ada firasat juga aku gak bakal lama2 di UGM). Akhirnya aku mencoba usaha terakhir yaitu dengan mendaftar beasiswa Korean Government Scholarship Program (KGSP) Undergraduate. Beasiswa KGSP untuk S1 memang baru dibuka sekitar bulan Oktober. Awalnya aku ragu untuk mendaftar karena adanya kewajiban mengikuti kursus bahasa Korea selama satu tahun, yang berarti aku akan lulus terlambat dibanding teman-teman aku yang lain (maksudku lulus kuliah tua gitu). Akan tetapi, karena tidak perlu tes tulis dalam proses seleksi dan juga mengingat skor TOEFL iBT akan segera kadaluarsa (cuma berlaku dua tahun, biayanya mahal), akhirnya aku sekedar mencoba mendaftar (ini alasan utama sebenernya, selain karena mikir daripada nanti nyesel ^^). Berkas-berkas pun aku persiapkan dan esai-esai yang diperlukan pun aku tulis dengan teliti. Mengingat aku tidak banyak tahu tentang perguruan tinggi di Korea Selatan (bukan fans KPop atau drama korea soalnya), aku hanya mencari universitas dengan ranking dunia yang baik (sebenernya aku sering nyari univ di luar pake ini sih hehe) dan punya jurusan geologi, earth science atau environmental science. Ketika itu pilihan aku jatuh pada Seoul National University (SNU), Korea University, dan Kyungpook National University (strategiku waktu itu dua univ yang bagus, satu yang kurang bagus). Aku kemudian mengirimkan berkas ke Kedutaan Besar Korea di Jakarta tanpa banyak berharap (aku dah bilang cuma coba-coba kan?).
Screen shoot dari acceptance letter KGSP-U :)

Kemudian aku ingat betul ketika aku sedang sibuk mempersiapkan ujian tengah semester, sekitar akhir Oktober, aku tiba-tiba ditelpon oleh Kedutaan Korea untuk tes wawancara di Jakarta (waktu itu bener2 dah lupa tentang applikasi KGSP). Aku pun kaget bukan main. Terlebih karena pada hari H aku juga ada ujian, aku langsung menemui dosen pengampu untuk diizinkan ujian susulan. Alhamdulilah dosen aku juga tidak keberatan (bener2 bersyukur yang bagian ini). Karena wawancara menggunakan bahasa Inggris, aku kemudian meminta bantuan teman untuk berlatih (credits buat Fauzy aka Akhyar junior wkwk). Pada hari wawancara sendiri ada enam orang termasuk aku. Walaupun sempat gugup di awal, tapi aku dapat menjawab pertanyaan dengan lancar.
Beasiswa KGSP-U sendiri memiliki kuota untuk setiap negara. Untuk Indonesia pada saat itu hanya kebagian 2 orang. Karenanya beberapa hari kemudian ketika aku dinyatakan pihak kedutaan lolos sebagai cadangan aku agak terkejut (walopun aku curiga jadi cadangan gara-gara gak bisa bahasa korea sama sekali). Ternyata kuota beasiswa bisa bertambah dalam kondisi tertentu. Aku kemudian tetap diminta mengikuti alur selanjutnya, yaitu seleksi oleh pihak universitas. Aku pun senang tapi tetap tidak terlalu berharap banyak, takut kecewa seperti sebelum-sebelumnya. 
Pada awalnya aku pikir cadangan akan diterima jika calon penerima beasiswa mundur atau tidak diterima. Namun sekitar bulan Desember aku mendapat email dari Kyungpook dan SNU. Pihak Kyungpook menyatakan bahwa berkas aku akan memasuki tahap akhir seleksi sementara SNU meminta aku melengkapi beberapa berkas sebelum memasuki tahap akhir (SNU ribet ya o__o). Lalu pada bulan Januari aku mendapat email dari ketiga universitas bahwa aku diterima di tiga universitas tersebut. Aku pun harus memilih salah satu dan pilihan aku jatuh pada SNU. Sementara pengumuman resmi dari NIIED, institusi pemberi beasiswa, keluar pada hari terakhir aku ujian semester di UGM (emang alurnya milih univ dulu baru keluar pengumuman resminya). Aku pun tidak menyangka pada akhirnya akan mendapat beasiswa ke Korea Selatan.
(Btw sepanjang proses, aku hampir telat beberapa... kayak ngisi online di web studyinkorea.go.kr sebelum seleksi univ, tapi untung bisa dilengkapi pada detik terakhir. Intinya bener2 dimudahkan)
Dan di sinilah aku sekarang, di salah satu univ paling prestisius di Korea dan Asia (gak ngelebihin2 kok wkwk, SNU emang didesain jadi kembarannya Tokyo Todai), ngambil jrusan Earth and Environmental Science. Memang sangat melenceng dengan negara tujuan awal aku. Aku pun tidak menyangka akan merasakan kehidupan di salah satu kota metropolitan terbesar di Asia. 
Yup, Kampus SNU di Gwanak (sumber: chem.snu.ac.kr)

Dan banyak hikmahnya lho, kayak orang Korea lebih gak rasis (mungkin sama2 muka Asia juga), fasilitas umum lebih enak, dan lain lain wkwkwk (kayaknya ini buat postingan lain kali ya ^^). Nah, anyway, sekian dulu ya haha... Insyaallah liburan ini bakal lebih banyak postingan hehe... 


Sunday, 31 July 2016

Karena Kami dan Sekolah Kami Bukan Teroris

Saya hanya ingin sedikit bercerita....

Tahun 2011 saya masuk ke SMAN Sragen Bilingual Boarding School (SBBS).

Tahun 2012 saya berkesempatan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Geografi Internasional (IGeO) di Cologne, Jerman. Walaupun tidak daoat medali dan sakit hati, saya bisa dapat tambahan jalan2 di Brussels dan Paris selama 3 hari. Di tahun yang sama, saya mendapat medali emas dalam OSN Kebumian di Jakarta.

Tahun 2013 saya mendapat kesempatan lagi mewakili Indonesia dalam Olimpiadr Ilmu Kebumian Internasional (IESO) di Mysore, India. Dan alhamdulillah kali ini saya dapat mempersembahkan medali perak untuk negeri tercinta.

Tahun 2014 karena prestasi saya tahun sebelumnya, saya terpilih menjadi salah satu delegasi Outstanding Students for the World, sebuah program dari Kementrian Luar Negeri RI di Ottawa, Toronto, dan Quebec, Kanada. Saya bersama belasan anak bangsa yang memiliki prestasi internasional melakukan presentasi mengenai apa yang kami capai untuk mempromosikan nama Indonesia di depan sekolah, universitas, lembaga pemerintahan, dan organisasi internasional pada saat itu.

Tahun 2015 saya berangkat ke Korea Selatan untuk melanjutkan studi S1 saya dengan beasiswa penuh.


Saya tidak bermaksud menyombongkan diri atau memamerkan prestasi dan kesempatan yang telah diberikan pada saya dari Allah. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa semua itu bisa saya dapatkan di SMA, yang sekarang dituduh oleh Kedutaan Besar Turki  berfiliasi dengan organisasi yang dicap teroris oleh pemerintahan Erdogan dan diminta ditutup. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa jika saya bersekolah di SMA negeri biasa lainnya, bisa jadi saya sekarang tidak akan hidup dan belajar di salah satu kota metropolitan terbesar di Asia. Dan percayalah, masih banyak siswa-siswa lain yang lebih hebat prestasinya dari saya di 9 sekolah "teroris" lainnya.

Dan saya pun masih bingung dengan tuduhan-tuduhan lain yang beredar di media massa. Saya sendiri belum pernah menonton video-video Gullen. Saya memang pernah disarankan membaca buku-buku karya Fetillah Gulen saat reading camp setelah ujian semester, tapi saya tidak pernah menemukan satu hal pun yang bersifat terorisme dan membahayakan negara. Dan coba pikirkan, berapa banyak sekolah di Indonesia yang mengalokasikan waktu seminggu hanya untuk membaca buku setelah semester berakhir? Pasti tidak banyak.

Saya sangat mengapresiasi Pemerintah RI yang melakukan cross check terlebih dahulu sebelum bertindak hingga akhirnya memutuskan tidak menutup sekolah-sekolah kami. Hanya saja, saya sangat menyayangkan orang-orang yang awam masalah ini, yang termakan apa-apa yang beredar di media, dan melontarkan berbagai tuduhan keji kepada sekolah-sekolah kami dan bahkan kepada pemerintah RI yang telah membuat keputusan yang adil. Dan saya tidak mengerti dengan orang-orang seperri ini. Dilihat dari sisi agama Islam, bukankah kita harus selalu mengecek segala berita yang kita dengar? Bukankah kita tidak boleh secara membabi buta mengikuti seseorang, termasuk seorang pemimpin? Bahkan khulafaur rasyidin, pemimpin umat Islam terbaik setelah Rasulullah saw, selalu meminta diingatkan oleh umat jika melakukan hal yang salah? Lalu dari sisi kebangsaan pun, apakah kita mau terpecah gara2 seorang pemimpin asing di negeri lain? Bukankah guru-guru dan siswa di sana juga adalah orang Indonesia?

Dan tahukah Anda semua, bahwa PASIAD dan organisasi pendidikan dari Turki di seluruh dunia pernah punya hubungan manis dengan Erdogan dahulunya? Ketika Festival Seni dan Kebudayaan Internasional yang digelar di Turki beberapa tahun lalu, Erdogan yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri memberikan sambutan dan mengungkapkan kekagumannya kepada organisasi2 tersebut. Namun itu dahulu, sebelum kasus korupsi anak-anak menteri-menteri di kabinetnya terbongkar dan Erdogan bangun bagai beruang yang mengamuk. Memang PASIAD dan sekolah-sekolah kami sudah tidak berhubungan lagi sejak 2015, tapi saya harap dengan mengungkapkan hal ini membuka pikiran-pikiran dan perspektif lain agar lebih bijak menghadapi isu ini.

Seoul
31 Juli 2016

Friday, 4 March 2016

Senioritas di Universitas di Korea

Halo semua!!! 안녕 안녕... Haha, setelah hampir setahun kosong tanpa apapun karena kesibukan dan lain hal (baca: kemalasan) akhirnya nulis lagi. Gak kenapa-napa sih, cuma lagi gak ada kerjaan terus gak tahan buat gak nulis masalah satu ini. Mumpung habis lulus TOPIK dan dah berhasil jadi maba (untuk ke 2 kalinya) wkwkwk...

Well, seperti yang kita semua tahu (terutama mahasiswa), salah satu hal yang sangat lekat dengan kehidupan mahasiswa baru alias maba adalah senioritas dan ospek. Yup, sejak lama hal-hal kayak gini jadi isu setiap tahun ajaran baru. Harus ikut kegiatan ini lah, harus kayak gitu lah, sama kating harus gitu lah, dan lain lain dan lain lain. Walaupun ospek dan senioritas jaman sekarang mungkin udah gak kayak jaman 80 an atau 90 an, tapi tetep aja agak ngerepotin. Iya gak? wkwkwk.

Nah, sebagai sesama negara di Asia, di Korea pun budaya senioritas pasti ada, lebih kuat malah. Yang sering lihat drama pasti juga tahu, kalo di sekolah sama di univ para hubae atau junior harus bener2 menghormati para seonbae atau senior, bahkan kadang lebih dari dosen. TAPI ni ya, ada tapinya, ternyata sebenernya hubungan senior-junior di sini itu LEBIH KE ARAH UMUR alias SIAPA YANG UMURNYA LEBIH TUA LEBIH DIHORMATI. Ini yang bedain sama di Indonesia. Kalo di Indonesia kan mainnya lebih ke angkatan, di sini mainnya lebih ke umur. Haha, aku juga sebenernya baru tahu dua atau 3 minggu yang lalu, pas ketemu sama temen angkatan dan para senior. Jadi kayak gini ceritanya....

Di sini sebenernya ada orientasi dan hal-hal kayak ospek gitu buat maba (tapi gak pake bentak2 atau sok2 galak gitu sih). Nah, atas bantuan kating dari Indonesia, untungnya bisa ikut kumpul kayak gitu. Nah, pas ketemu kan pasti ada perkenalan diri. Isinya standar sih, nama, asal, dsb. Tapi di sini pasti juga ditanya umur. Jadi sejak awal kenalan udah tau yang diajak kenalan itu lebih tua atau lebih muda. Nah, pas aku bilang kelahiran 95 (aslinya umurku 20 tahun, tapi di korea jadi 22 -____-), mereka kaget. Sebenernya aku juga kaget waktu tahu banyak dari mereka kelahiran 96 sm 97, bahkan 98 juga ada .___. 아무튼 aku jadi org paling tua ke 2 di angkatan (yg pertama orang korea yang pindah jurusan) dan bahkan jadi lebih tua dari kebanyakan kating angkatan 2015 sama 2014, terus banyak yg sebaya sama 2013 (aku angkatan 2016), Akhirnya mereka pada manggil aku Hyeong sama Oppa (kayak mas atau kakak gitu), bahkan pake bahasa kramanya Korea x___x. Jadinya bukan aku yang harus ngehormatin para kating, tapi malah katingnya yg jadi harus ngehormatin aku..... Awalnya kerasa wagu gitu sih, maklum masih bawaan kebiasaan di Indonesia. Cuman,ternyata ada keuntungannya gitu. Mereka jadi sungkan dan lebih hati2 waktu ngomong sama aku. Jadi kelakuan mereka agak hati2 gitu. Terus aku bisa ngomong pake 반말 ato kayak bahasa ngokonya Korea gitu wkwkwk. Jadi bisa dimanfaatin lah hahaha *ketawa jahat*.

Nah, jadi untuk kasus orang Korea, karena umumnya mereka kalo beda angkatan juga otomatis beda umur, senioritas tetep ada. Tapi rasanya bener2 beda gak kayak di Indonesia. O iya, satu lagi, kalo makan bareng kating itu pasti ditraktir. Walaupun nanti juga harus nraktir para junior sih *___*.

Sampe segini dulu ya... sampai jumpa lagi (tapi gak tau kapan) wkwkwkwk....